Undangan Murah Banjar Baru

Written By republic grafika on Jumat, 30 Desember 2016 | 18.58


BANJARBARU BONGKAR SEJARAH KOTANYA


Oleh: HE. Benyamine
Banjarbaru telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, lahan-lahan yang ada sudah mulai terpancang berbagai bentuk bangunan. Di jalan-jalan utamanya, sudah banyak bangunan ruko, yang seperti benteng memagari jalan-jalan tersebut. Ibaratnya, sedang berusaha untuk disandingkan dengan tembok China, jika dideretkan ruko-ruko tersebut.
Beberapa tempat dan bangunan serta benda yang dapat dikatakan sebagai sesuatu yang bernilai untuk menjadi rekam jejak kota Banjarbaru sudah ada yang berubah dan sebagiannya hilang tergantikan oleh bangunan baru yang benar-benar menghilangkan wujud peninggalan yang bernilai sejarah.

Kincir Angin Comet diperlakukan sebagai besi tua, diserahkan pada pemulung untuk membongkarnya. Sumber foto: http://loeweng08.wordpress.com
Kincir Angin Comet diperlakukan sebagai besi tua, diserahkan pada pemulung untuk membongkarnya. Sumber foto: http://loeweng08.wordpress.com
Pada tahun 2008, warga Banjarbaru, khususnya yang tinggal disekitar Comet, menjadi saksi terbaru bagaimana kita memperlakukan benda yang bersejarah bagi kota ini, di mana Kincir Angin Comet yang merupakan salah satu ikon kota dibongkar begitu saja dengan ringan tangan, karena alasan dapat membahayakan warga di sekitar.

Pembongkaran Comet diserahkan kepada pemulung, yang seakan menunjukkan bahwa Comet tersebut hanya dianggap tidak lebih dari besi tua, tanpa memikirkan nilai sejarahnya dan arti penting bagi rekam jejak kota Banjarbaru.
Pemerintah kota sendiri terkesan tidak peduli dengan keberadaan Comet tersebut, sehingga memberikan peluang kepada warga untuk menilai sendiri atas benda tersebut, yang bagi sebagian orang terlihat hanya sebagai besi tua yang dapat membahayakan keselamatan warga sekitar.
Mengapa Pemko begitu tidak peduli dengan benda bersejarah tersebut? Atau, jangan-jangan Pemko Banjarbaru mempunyai pandangan yang sama terhadap Comet tersebut, hanya besi tua tidak lebih dari itu. Lalu, pandangan ini juga berlaku dengan benda-benda bersejarah lainnya, dianggap tidak mempunyai manfaat dan tidak berharga.
Saat ini memang sudah berdiri kembali Kincir Angin, yang sudah dikerdilkan, dan memperlihatkan suatu sikap menganggap remeh benda bersejarah. Hal ini sebenarnya memperlihatkan suatu sikap kerdil dan tidak sadar sejarah, dan Pemko tidak peduli dengan hal itu.
Pandangan Pemko Banjarbaru terhadap jejak sejarah kotanya ini sangat jelas terlihat saat membongkar Tugu Simpang Empat dengan lambang intannya, dan menggantikannya dengan desain yang berkesan glamour tapi membuat terasa sesak dan menghalangi pandangan dari masing-masing jurusan.
Tugu Simpang Empat Banjarbaru (Lama). Sumber:http://cozyrira89.wordpress.com
Tugu Simpang Empat Banjarbaru (Lama). Sumber:http://cozyrira89.wordpress.com
Padahal bundaran sebagai titik simpul jalan-jalan jelas mempunyai fungsi lalu lintas yang penting. Desain yang lama, sebenarnya menyesuaikan dengan fungsinya, memang berkesan sebagai lambang Kabupaten Banjar, tapi itulah sejarahnya.
Tugu Simpang Empat yang belum selesai saja sudah sangat menghalangi pandangan lalu lintas, karena memang tidak tepat dengan desain saat ini. Mungkin, saat mendesain tugu yang sekarang (masih mangkrak), perencananya tidak memintakan pendapat kepada polisi lalu lintas bagaimana layak fungsinya suatu tugu di bundaran sebagai titik temu jalan.
Tugu Simpang Empat Banjarbaru (Baru masih mangkrak). Sumber Foto: http://cozyrira89.wordpress.com
Tugu Simpang Empat Banjarbaru (Baru masih mangkrak). Sumber Foto: http://cozyrira89.wordpress.com
Di samping menghilangkan nilai sejarah Tugu Simpang Empat, Pemko Banjarbaru juga terlihat seperti kehilangan orientasi dalam perencanaan kota, sehingga pengerjaannya lebih cenderung untuk kepentingan proyek dan asal bangun, dan yang cenderung menghilangkan nilai sejarahnya.
Ada beberapa rekam jejak sejarah Kota Banjarbaru yang sebagian mulai menghilang dan berubah fungsinya. Dalam hal gedung, ambil contoh Bina Satria, yang dulunya menjadi pusat kegiatan kepemudaan yang digerakkan Ikatan Pemuda Banjar Baru (IPBB), seakan tidak dapat dipertahankan sebagai gedung pemuda. Malah saat ini sudah digunakan untuk kepentingan lain, yang tidak begitu berhubungan dengan kepemudaan. Seharusnya gedung ini dapat dipertahankan untuk pusat kegiatan kepemudaan dan juga bernilai sejarah.
Begitu juga dengan Proyek Besi Baja sekitar tahun 1960-an, yang merupakan PMA dari Rusia, yang saat ini sudah berubah menjadi perumahan dan pertokoan. Kota Tarakan saja bisa mempertahankan kilang minyak tua, malah ada yang bekas kena bom, untuk menjadi benda bersejarah dan tetap ada hingga saat ini. Mengapa Kota Banjarbaru membiarkan ini terjadi?
Proyek Besi Baja ini, juga menyisakan Mess L, yang dulunya menjadi tempat tinggal orang-orang Rusia; sering diadakan pesta dansa, tapi sekarang entah bagaimana kondisinya.
Bangkai Heli Rusia di Taman Karang Taruna, sekarang kolam Renang Idaman Banjarbaru. Sumber Foto: http://cozyrira89.wordpress.com
Bangkai Heli Rusia di Taman Karang Taruna, sekarang kolam Renang Idaman Banjarbaru. Sumber Foto: http://cozyrira89.wordpress.com
Beberapa peninggalan proyek ini, juga ikut menghilang, seperti bangkai helikopter yang dulunya ada di lokasi kolam renang Idaman dan di SMK YPK Banjarbaru.
Di samping itu, di Lokatabat pernah berdiri pabrik paku, yang saat ini juga sudah tidak jelas jejaknya. Pada saat itu, pabrik paku ini cukup terkenal di Kalsel. Ada suatu pesan, bahwa kota ini pernah melakukan suatu kerja produktif dan mempunyai kemampuan untuk membuat paku sendiri, untuk memenuhi kebutuhan daerah.
Adapun yang sudah mulai berubah fungsinya, Taman Karang Taruna, yang saat ini sudah mulai padat dengan berbagai bangunan, seperti dibangunnya Kolam Renang Idaman, Rumah Dinas Wakil Walikota, Kantor Kelurahan, dan Kantor PKK Banjarbaru, yang telah menjadikan lokasi ini begitu sesak dan tak beraturan. Dalam hal ini, setidaknya Pemko Banjarbaru telah mengurangi ruang terbuka hijau, yang sebenarnya juga bernilai sejarah.
Pohon Flamboyan yang memberi warna Taman Karang Taruna, sudah mulai berkurang, begitu juga pohon Bungur dengan bunga ungu.
Pohon Flamboyan yang memberi warna Taman Karang Taruna, sudah mulai berkurang, begitu juga pohon Bungur dengan bunga ungu.
Ini perlu dipertanyakan kepada Pemko, karena dinas terkait tentu sudah paham betul mengenai ruang terbuka hijau, kecuali tutup mata dan telinga.
Beberapa lokasi di Banjarbaru masih menyisakan kenangan bagi pemuda saat itu, seperti Taman Bacaan Gembira yang digagas Abdul Kadir Munsi di depan Hotel Banjarbaru. Saat ini memang ada di rumah warga dengan nama Taman Bacaan MGR, yang perlu mendapatkan apresiasi karena setidaknya masih mengingatkan keberadaan taman bacaan saat itu.
Oleh karena itu, perlu adanya kepedulian bersama terhadap benda-benda bersejarah, untuk tidak membiarkan semakin banyak yang hilang dan berubah fungsi. Kita perlu tetap ingat, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, dan Kota Banjarbaru tidak ada secara tiba-tiba tapi mempunyai sejarah yang patut dihargai.
Pemko Banjarbaru tidak bisa dibiarkan saja membiarkan peninggalan yang bersejarah bagi kota ini berubah fungsi dan menghilang. Kesadaran sejarah perlu dibangun untuk memberikan suatu penerang dalam melanjutkan pembangunan kota ini.
Bila Pemko masih tidak sadar sejarah tentang kota Banjarbaru, dan terus mengabaikannya, maka tidak ada yang dapat diharapkan pada elit yang tahunya membongkar, membongkar, dan membongkar sejarahnya sendiri. Warga Banjarbaru jangan berdiam diri, karena membongkar sesuatu yang bersejarah sama saja mengubur sejarah Banjarbaru, sejarah warga sendiri.


    Share this article :

    0 komentar:

    Posting Komentar